Hasil wawancara UMKM sekitar Jampang Rizky Sindhu Wardoyo

Rizky Sindhu Wardoyo

41122020

Tugas matematika bisnis

HASIL WAWANCARA UMKM

MATEMATIKA BISNIS

 

Kelompok 4:

 

Andika Putra Pratama 41122043

Novita Ulandari 41122051

Ai Yuliastuti 41122030

Rizky Sindhu Wardoyo 21322020

 

 

 

 

 

 

 

SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN

BUDI BAKTI

2022

KATA PENGANTAR

 

Dengan rasa syukur yang tak terhingga, kami menghadirkan laporan wawancara ini sebagai hasil dari penelitian kami. Laporan ini merupakan hasil kolaborasi dan kerja sama kelompok kami. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada umkm sekitar yang telah meluangkan waktu dan kesempatan untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan wawasan yang berharga.

 

Laporan ini bertujuan untuk mendokumentasikan hasil wawancara kami dengan umkm sekitar yang memiliki keahlian dan pengalaman yang sangat berharga. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang permasalahan umkm, serta mengeksplorasi pandangan, pendapat, dan pengalaman dari umkm sekitar .

 

Dalam proses penyusunan laporan ini, kami telah menggunakan berbagai sumber informasi yang relevan, termasuk wawancara langsung, penelitian kepustakaan, dan sumber-sumber lainnya. Kami berharap bahwa laporan ini dapat memberikan wawasan baru dan pemahaman yang lebih baik tentang permasalahan umkm, serta memberikan manfaat bagi pembaca.

 

Akhir kata, kami berharap laporan wawancara ini dapat menjadi sumber referensi yang berharga dan memberikan manfaat bagi semua pembaca. Kami menyadari bahwa laporan ini tidak luput dari kekurangan, oleh karena itu, masukan, saran, dan kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan ke depannya.Terima kasih.

 

Hormat kami,

 

kelompok 4

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

 

Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran penting dalam perekonomian suatu negara. UMKM tidak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi sumber lapangan kerja bagi masyarakat. Namun, saat ini, banyak UMKM menghadapi berbagai tantangan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.

 

Dalam wawancara kelompok kami dengan beberapa UMKM, dua permasalahan utama yang sering disoroti adalah kurangnya pelanggan dan kurangnya dana untuk mengembangkan usaha. Permasalahan ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh UMKM dalam mencapai keberhasilan dan kelangsungan usaha.

 

Pertama, kurangnya pelanggan menjadi permasalahan yang signifikan bagi banyak UMKM. Dalam era digital yang terus berkembang, persaingan bisnis semakin ketat. UMKM harus mampu menarik perhatian dan mempertahankan pelanggan potensial mereka. Namun, kurangnya pengetahuan dan akses terhadap strategi pemasaran yang efektif sering kali menjadi kendala bagi UMKM. Selain itu, daya saing dari perusahaan besar dan merek terkenal juga dapat menghadirkan tantangan bagi UMKM yang harus berusaha keras untuk mendapatkan pangsa pasar yang cukup.

 

Kedua, kurangnya dana untuk mengembangkan usaha juga menjadi permasalahan yang umum dihadapi oleh UMKM. Dalam menjalankan operasional sehari-hari dan merencanakan pertumbuhan, UMKM seringkali mengalami keterbatasan finansial. Mereka menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses terhadap pinjaman bank atau modal ventura yang diperlukan untuk mengembangkan usaha mereka. Kurangnya akses terhadap sumber daya finansial ini dapat membatasi UMKM dalam meningkatkan kapasitas produksi, mengembangkan produk baru, atau memperluas jangkauan pemasaran mereka.

Dalam konteks ini, penting bagi para pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan terkait untuk bekerja sama dalam mencari solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh UMKM. Dukungan dalam bentuk pelatihan pemasaran dan manajemen, akses ke sumber daya finansial yang terjangkau, serta fasilitas untuk mengembangkan jaringan bisnis menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kesejahteraan dan keberlanjutan UMKM. Dengan mengatasi permasalahan ini, UMKM dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.

 

Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa masalah penting sebagai berikut :

 

Apa yang menyebabkan UMKM mengalami kurangnya pelanggan dan kurangnya dana untuk mengembangkan usahanya?

Siapa yang terlibat dalam masalah ini, baik dari pihak UMKM itu sendiri maupun faktor eksternal yang berperan?

Di mana lokasi UMKM ini beroperasi dan menghadapi masalah ini?

Kapan masalah ini mulai terjadi dan apakah ada perubahan tren yang terkait?

Mengapa UMKM mengalami kurangnya pelanggan dan kurangnya dana untuk mengembangkan usahanya? Apa faktor penyebab utama yang mempengaruhi kondisi ini?

Bagaimana UMKM dapat mengatasi masalah ini? Apa strategi yang dapat mereka terapkan untuk menarik lebih banyak pelanggan dan mendapatkan sumber dana yang lebih memadai untuk mengembangkan usaha?

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Teori Masalah Kurangnya Pelanggan UMKM

Terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan masalah kurangnya pelanggan pada UMKM. Berikut adalah dua teori yang relevan:

 

Teori Pemasaran: Menurut teori ini, kurangnya pelanggan pada UMKM dapat disebabkan oleh ketidakmampuan UMKM dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar secara efektif. Mungkin UMKM tidak memahami dengan baik target pasar mereka, kurang melakukan riset pasar, atau tidak menyediakan produk atau layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Selain itu, UMKM mungkin mengalami kesulitan dalam memasarkan produk mereka dengan cara yang efektif atau tidak memiliki strategi pemasaran yang memadai.

 

Teori Relasi Pelanggan: Teori ini menekankan pentingnya membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan untuk mempertahankan dan meningkatkan basis pelanggan. Jika UMKM tidak memiliki strategi yang baik dalam membangun hubungan dengan pelanggan, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam mempertahankan pelanggan yang sudah ada dan mendapatkan pelanggan baru. Kurangnya upaya dalam memberikan pelayanan pelanggan yang baik, kurangnya komunikasi dan interaksi dengan pelanggan, atau kurangnya loyalitas pelanggan dapat menjadi faktor penyebab masalah ini.

 

Dalam mengatasi masalah kurangnya pelanggan pada UMKM, penting untuk mempertimbangkan teori-teori di atas. UMKM perlu memahami target pasar mereka dengan baik, melakukan riset pasar untuk memahami kebutuhan pelanggan, dan mengembangkan strategi pemasaran yang efektif. Selain itu, UMKM juga harus fokus pada membangun hubungan baik dengan pelanggan, memberikan pelayanan yang berkualitas, dan menjaga komunikasi yang terbuka dengan pelanggan.

Teori Masalah Kurangnya Dana Untuk Mengembangkan Usaha

Salah satu teori yang relevan dengan masalah kurangnya dana untuk mengembangkan usaha UMKM adalah “Teori Pembiayaan Pecking Order” (Pecking Order Theory of Financing). Teori ini dikemukakan oleh Myers dan Majluf pada tahun 1984.

Menurut Teori Pembiayaan Pecking Order, UMKM cenderung mengikuti urutan prioritas tertentu dalam memilih sumber pembiayaan untuk mengembangkan usahanya. Urutan prioritas tersebut adalah sebagai berikut:

Internal Financing (Pendanaan Internal): UMKM cenderung menggunakan sumber dana internal, seperti laba yang telah dihasilkan atau modal sendiri, sebagai sumber pembiayaan pertama dalam mengembangkan usaha. Hal ini dikarenakan penggunaan dana internal tidak membutuhkan beban bunga atau risiko tambahan.

 

Utang Jangka Pendek: Apabila dana internal tidak mencukupi, UMKM cenderung memilih pembiayaan melalui utang jangka pendek. Utang ini umumnya diperoleh dari bank atau kreditur lainnya untuk memenuhi kebutuhan modal kerja atau investasi yang relatif kecil. Meskipun bunga yang harus dibayarkan lebih tinggi, UMKM memilih utang jangka pendek karena lebih mudah diperoleh dan memiliki keterbatasan risiko.

 

Utang Jangka Panjang: Jika dana dari sumber internal dan utang jangka pendek masih kurang, UMKM kemudian akan mempertimbangkan pembiayaan melalui utang jangka panjang. Utang jangka panjang ini mencakup pinjaman bank, obligasi, atau sumber pembiayaan lainnya yang memiliki jangka waktu lebih lama dan memerlukan jaminan atau persetujuan yang lebih ketat. Meskipun bunga yang harus dibayarkan lebih rendah, UMKM cenderung menghindari opsi ini karena keterbatasan akses, persyaratan yang sulit dipenuhi, atau risiko yang lebih tinggi.

 

Pembiayaan Ekuitas (Equity Financing): Jika semua opsi di atas tidak memungkinkan atau tidak memadai, UMKM akan mempertimbangkan pembiayaan melalui ekuitas. Pembiayaan ekuitas melibatkan penerbitan saham kepada investor atau pendana eksternal yang akan memiliki sebagian kepemilikan dan keuntungan dari usaha tersebut. UMKM cenderung menghindari pembiayaan ekuitas karena kehilangan sebagian kontrol atas bisnis dan pembagian laba yang harus dilakukan.

 

Dalam konteks kurangnya dana untuk mengembangkan usaha UMKM, teori ini dapat membantu menjelaskan mengapa UMKM sering kali menghadapi kesulitan dalam memperoleh pembiayaan eksternal yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pengembangan bisnis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL WAWANCARA DAN KESIMPULAN

 

3.1 Hasil Wawancara

Narasumer I

Dengan data:

Nama: Pak Jojo

Umur: 53 Tahun

Alamat: Pondok udik

No. telepon: 085211658800

Jenis usaha: Kuliner (Es doger)

Penghasilan: 1,5 juta/bulan

 

Dari hasil wawancara, pak jojo tidak memiliki/membuat laporan keuangan dari pendapatannya tersebut. Beliau menggunakan uang hasil usahanya untuk kebutuhan keluarnya nya sehari-hari. Dari pendapatannya, ia tidak bisa menabung karna penghasilannya yang hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya, ini disebabkan oleh kurangnya pelanggan. Ia juga berencana ingin mengembangkan usahanya namun tidak memiliki modal, jika ada uang berlebih ia gunakan untuk membeli emas sebagai tabungan keluarga atau usahanya.

 

Dari masalah tersebut, dapat dikaitkan dengan teori-teori yang kami simpulkan, yaitu:

 

Teori pemasaran

pak jojo mengaku kekurangan pelanggan yang mana ini bisa disebabkan oleh ketidakmampuan penjual dalam memenuhi kebutuhan atau keinginan pasar secara efektif. Selain itu, mungkin penjual juga mengalami kesulitan dalam memasarkan produk atau tidak memiliki strategi pemasaran yang memadai. Seperti misalnya penjualan yang dilakukan dengan keliling ke desa-desa yang sepi pembeli, seharusnya dilakukan di tempat-tempat umum yang sedang ada acara, seperti bazar, sekolah-sekolah, pasar, dll.

 

Teori relasi pelanggan

dalam teori ini pak jojo seharusnya bisa membangun hubungan yang baik/jangka panjang dengan pelanggan yang sudah ada untuk mempertahankan dan meningkatkan basis pelanggan.

 

Teori laporan keuangan

Dapat ketahui pak jojo tidak membuat atau memiliki laporan keuangan pada usahanya, tanpa laporan keuangan penjual tidak dapat mengontrol biaya, mengetahui posis laba rugi usaha, dan perencanaan usahanya. Ini juga dapat menjadi salah satu penyebab sulitnya untuk mengembangkan usahanya tersebut.

 

Teori pengembangan usaha

untuk mengembangkan usahanya, pak jojo bisa meningkatkan kualitas produk yang dijualnya, seperti menambah toping pada es nya atau menggunakan sosial media untuk pemasarannya juga. Pak jojo juga bisa meminjam sementara ke bank yang bunga nya rendah untuk modal usahanya.

 

Narasumber II

Dengan data:

Nama: Pak Agus

Umur: 27 tahun

Alamat: Gg.benjol, Baiturrahman

No. telpeon: 088295808662

Jenis usaha: Kuliner (Siomay)

Penghasilan: 400.000/hari atau 9 juta/bulan

 

Dari hasil wawancara, pak agus tidak memiliki/membuat laporan keuangan dari pendapatannya tersebut. Ia juga tidak memisahkan anatara uang untuk modal kembali dengan uang untuk kebutuhan keluarga. Beliau menggunakan uang hasil usahanya untuk kebutuhan keluarnya nya sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anaknya. Dari pendapatannya, ia bisa menyisihkan sebgian untuk menabung. Ia juga berencana ingin mengembangkan usahanya dan meminjam modal dibank karena bunga nya yang kecil, jika ada uang berlebih ia gunakan untuk membeli emas sebagai tabungan keluarga atau usahanya.

 

Dari masalah tersebut, dapat dikaitkan dengan teori-teori yang kami simpulkan, yaitu:

 

Teori laporan keuangan

Dapat ketahui pak agus tidak membuat atau memiliki laporan keuangan pada usahanya, tanpa laporan keuangan penjual tidak dapat mengontrol biaya, mengetahui posis laba rugi usaha, dan perencanaan usahanya. Ini juga dapat menjadi salah satu penyebab sulitnya untuk mengembangkan usahanya tersebut.

 

Utang jangka pendek

Biasanya umkm memilih meminjam modal sementara dibank atau kredidur lainnya karena lebih mudah diperoleh meskipun terdapat bunga yang harus dibayar juga. Seperti pak agus yang meminjam modal di bank, ia memperhitungkan untuk pembayarannya disetiap harinya.

 

Teori pengembangan usaha

untuk mengembangkan usahanya, pak agus bisa meningkatkan kualitas produk yang dijualnya, menambah relasi pembeli/pelanggan dan memperluas penjualannya agar dikenal banyak orang.

 

 

Narasumber III

Dengan data:

Nama: Pak Irfan

Umur: 33 tahun

Alamat: Gg.baiturrahman

No. telepon: 088291551316

Jenis usaha : Kuliner (Cireng isi)

Penghasilan: 200.000/hari

 

Dari hasil wawancara, pak irfan tidak memiliki/membuat laporan keuangan dari pendapatannya tersebut. Ia juga tidak memisahkan anatara uang untuk modal kembali dengan uang untuk kebutuhan keluarga. Beliau menggunakan uang hasil usahanya untuk kebutuhan keluarnya nya sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anaknya. Dari pendapatannya, ia bisa menyisihkan sebgian untuk ditabung dikoperasi. Ia juga berencana ingin mengembangkan usahanya dan ia meminjam modal dibank karena bunga nya yang kecil, namun ia seringkali tidak menghitung cicilan miliknya. Jika ada uang berlebih ia ingin gunakan untuk membeli tanah sebagai tabungan keluarga atau usahanya.

 

Dari masalah tersebut, dapat dikaitkan dengan teori-teori yang kami simpulkan, yaitu:

 

Teori laporan keuangan

Dapat ketahui pak irfan tidak membuat atau memiliki laporan keuangan pada usahanya, tanpa laporan keuangan penjual tidak dapat mengontrol biaya, mengetahui posis laba rugi usaha, dan perencanaan usahanya. Ini juga dapat menjadi salah satu penyebab sulitnya untuk mengembangkan usahanya tersebut.

 

Utang jangka pendek

Biasanya umkm memilih meminjam modal sementara dibank atau kredidur lainnya karena lebih mudah diperoleh meskipun terdapat bunga yang harus dibayar juga. Seperti pak irfan yang meminjam modal di bank, namun ia seringkali tidak memperhitungkan cicilan miliknya.

 

Teori pengembangan usaha

untuk mengembangkan usahanya, pak irfan bisa meningkatkan kualitas produk yang dijualnya, menambah relasi pembeli/pelanggan dan memperluas penjualannya agar dikenal banyak orang.

 

Narasumber IV

Dengan data:

Nama: Bu Budihartati

Umur: 34 tahun

Alamat: Jampang Baiturahman

No. telepon: 08787218762

Jenis usaha: Kuliner (Pecel lele)

Penghasilan: 3juta/bulan

 

Dari hasil wawancara, Bu tati/budihartati tidak memiliki/membuat laporan keuangan dari pendapatannya tersebut. Beliau menggunakan uang hasil usahanya untuk kebutuhan keluarnya nya sehari-hari. Dari pendapatannya, ia menyisihkan sebagian untuk ditabung dicelengan. Ia terkadang memiliki masalah kurangnya pelanggan karna lokasi usahanya yang tidak diketahui banyak orang. Ia juga berencana ingin mengembangkan usahanya dan ingin meminjam modal dibank karena bunga nya yang kecil, dan akan menghitung cicilannya bila meminjam. Jika ada uang berlebih ia ingin gunakan untuk berinfestasi.

 

Dari masalah tersebut, dapat dikaitkan dengan teori-teori yang kami simpulkan, yaitu:

 

Teori pemasaran

Bu budihartati mengaku terkadang kekurangan pelanggan yang mana disebabkan oleh lokasi usaha yang ada didalam desa dan tidak banyak diketahui banyak orang. Ini bisa diatasi dengan penjualan yang dilakukan melalui sosial media dengan menggunakan aplikasi-aplikasi online, seperti gofood, shoopefood, dll. Beliau juga bisa dengan menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan mempromosikan usahanya atau menambah relasi pelanggan.

 

Teori laporan keuangan

Dapat ketahui bu budihartati tidak membuat atau memiliki laporan keuangan pada usahanya, tanpa laporan keuangan penjual tidak dapat mengontrol biaya, mengetahui posis laba rugi usaha, dan perencanaan usahanya. Ini juga dapat menjadi salah satu penyebab sulitnya untuk mengembangkan usahanya tersebut.

 

Teori pengembangan usaha

untuk mengembangkan usahanya, bu budihartati bisa meningkatkan kualitas produk yang dijualnya, ia juga sudah menambah produk nya dengan berjualan donat juga. Dengan menambah relasi pembeli/pelanggan dan menggunakan media sosial untuk memperkenalkan usahanya kepada banyak orang.

 

Narasumber V

Dengan data:

Nama: Bu Yani

Umur: 40 tahun

Alamat: Jampang gg.balong

No. telepon: 085892377439

Jenis usaha: Kuliner (Tahu gejrot)

Penghasilan: 100.000/hari

 

Dari hasil wawancara, Bu yani memiliki/membuat laporan keuangan dari pendapatannya tersebut, beliau juga memisahkan antara uang usaha dengan uang untuk sehari-hari. Beliau menggunakan uang hasil usahanya untuk kebutuhan keluarnya nya dan pendidikan anak-anaknya. Dari pendapatannya, ia menyisihkan sebagian untuk ditabung dicelengan. Ia terkadang memiliki masalah kurangnya pelanggan karna besarnya daya saing dilokasi usahanya. Ia juga berencana ingin mengembangkan usahanya dan ingin meminjam modal dibank karena bunga nya yang kecil, dan akan menghitung cicilannya bila meminjam. Jika ada uang berlebih ia ingin gunakan untuk infestasi usaha lainnya.

 

Dari masalah tersebut, dapat dikaitkan dengan teori-teori yang kami simpulkan, yaitu:

 

Teori pemasaran

Bu yani mengaku terkadang kekurangan pelanggan yang mana disebabkan oleh daya saing yang besar dilokasi usahanya. Ini bisa diatasi dengan menambah inofasi-inofasi baru untuk produknya agar terlihat lebih menonjol diantara pedagang lainnya. Beliau juga bisa dengan menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan mempromosikan usahanya atau menambah relasi pelanggan.

 

Teori pengembangan usaha

untuk mengembangkan usahanya, Bu Yani bisa meningkatkan kualitas produk yang dijualnya, menambah inofasi-inofasi baru untuk usahanya, juga dengan menambah relasi pembeli/pelanggan.

 

3.2 Kesimpulan

Dalam teori pembiayaan Pecking Order, terdapat hierarki yang menggambarkan preferensi pembiayaan suatu perusahaan. Hierarki tersebut mencakup pembiayaan internal (labanya sendiri), utang (pinjaman), dan ekuitas (modal sendiri atau saham). Berikut adalah kesimpulan yang dapat dibuat dengan membandingkan hasil wawancara dengan teori pembiayaan Pecking Order:

 

Pak Jojo, Pak Agus, Pak Irfan, dan Bu Tati/Budihartati tidak memiliki laporan keuangan yang teratur, yang mengindikasikan kurangnya pemantauan dan pengendalian keuangan. Hal ini juga menunjukkan ketidaktahuan mereka tentang sumber daya keuangan yang tersedia dan penggunaannya secara efektif.

 

Pak Jojo dan Pak Agus, meskipun tidak memiliki laporan keuangan yang teratur, memiliki kesadaran akan pentingnya menabung atau memiliki tabungan. Namun, mereka cenderung mengalokasikan uang berlebih untuk membeli emas sebagai bentuk tabungan, daripada menginvestasikan dalam pengembangan usaha mereka. Ini menunjukkan kurangnya pemahaman tentang potensi pertumbuhan dan pengelolaan keuangan yang lebih efisien.

 

Pak Irfan dan Bu Tati/Budihartati, meskipun tidak memiliki laporan keuangan yang teratur, memiliki kesadaran akan pentingnya menabung dan memiliki rencana pengembangan usaha. Mereka berencana meminjam modal dari bank dengan bunga rendah untuk mendukung pertumbuhan usaha mereka. Namun, Pak Irfan menghadapi tantangan dalam mengelola cicilan pinjaman dengan baik, sementara Bu Tati/Budihartati memiliki keinginan untuk menggunakan uang berlebih untuk investasi.

 

Bu Yani adalah satu-satunya individu yang membuat laporan keuangan teratur dan memisahkan uang untuk usaha dan kebutuhan sehari-hari. Hal ini mencerminkan pemahaman dan pengelolaan keuangan yang lebih baik. Bu Yani juga menyisihkan sebagian uang untuk ditabung dan memiliki rencana pengembangan usaha yang jelas. Jika ada uang berlebih, ia ingin menggunakannya untuk investasi dalam usaha lain.

 

Dengan mempertimbangkan teori pembiayaan Pecking Order, dapat disimpulkan bahwa individu-individu yang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang keuangan, membuat laporan keuangan teratur, dan memisahkan uang untuk tabungan atau pengembangan usaha cenderung memiliki strategi pembiayaan yang lebih sejalan dengan teori Pecking Order. Mereka akan cenderung mengandalkan pembiayaan internal terlebih dahulu (labanya sendiri), kemudian mempertimbangkan utang (pinjaman), dan baru terakhir mengandalkan ekuitas (modal sendiri atau saham) untuk memenuhi kebutuhan modal usaha mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

MEMAHAMI KEWAJIBAN JANGKA PANJANG DALAM AKUNTANSI

 

https://repository.ung.ac.id/get/karyailmiah/9015/Book-Chapter-Manajemen-Keuangan.pdf

 

https://www.ruangmenyala.com/article/read/utang-jangka-panjang


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *